Makalah WSBB
BUDAYA
MARITIM MANDAR
“PERAHU
SANDEQ”
OLEH
HILDAWATI
E51114308
JURUSAN
ANTROPOLOGI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
Kata
Pengantar
Puji
dan syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas Berkat dan
Rahmatnya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Isi makalah ini, membahas
tentang “Budaya Maritim Mandar Perahu Sandeq”. Semoga dengan pembahasan makalah ini dapat
berguna bagi kita. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman
yang telah membantu dengan memberikan
dorongan dan saran untuk menyusun
makalah ini sehingga diselesaikan dengan baik. Dan juga makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, apabila ada
kekurangan atau kesalahan kata dalam penulisan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan bersedia menerima
kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi memperbaiki makalah ini.
PENULIS
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar........................................................................................................
ii
Daftar Isi................................................................................................................
iii...........
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
belakang masalah....................................................
1
B. Rumusan
masalah............................................................
2
C. Tujuan
penulisan..............................................................
2
BAB
II PEMBAHASAN
A. Sejarah Perahu Sandeq................................................ 3
B. Pembuatan Perahu Sandeq.......................................... 4
C. Nilai-nilai Perahu Sandeq ........................................... 9
D. Lomba Perahu Sandeq ................................................ 10
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................
11
B. Saran..........................................................................
11
C. Lampiran Gambar ...................................................... 12
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Melaut bagi suku Mandar
merupakan penyatuan diri dengan laut. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi
kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. Mencari penghidupan di laut
(sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu
betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut.
Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang
berjudul ”Manusia Bugis” (2006), bahwa
orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Mereka tidak akan bisa hilang dan
tersesat di lautan. Interaksi
masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan
dengan laut, salah satunya keperahuan (paissangang paalopiang).
Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah rumpon atau roppong dan
Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan
ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar Perangkap ini terbuat
dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang
khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia. Sandeq, perahu tradisional Mandar
merupakan warisan leluhur sebagai sarana para nelayan untuk mencari ikan di
laut sebagai mata pencaharian, sebagai sarana transportasi para pedagang pada
masa silam mengarungi lautan untuk menjual hasil bumi.
B.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan makalah dari makalah ini yaitu :
1. Sejarah
perahu sandeq
2. Pembuatan
perahu sandeq
3. Nilai
dari perahu sandeq
C.
Tujuan Penulisan
Adapu
tujuan penulisan makalah yaitu :
1. Untuk
mengetahui sejarah perahu sandeq
2. Untuk
mengetahui proses pembuatan perahu sandeq
3. Untuk
mengetahui nilai – nilai yang terkandung pada perahu sandeq
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Perahu Sandeq
Sandeq
adalah perahu bercadik khas Mandar. Sandeq digunakan untuk menangkap ikan dan
berdagang, warnanya putih, bertiang layar tunggal, layarnya bersegi-tiga, dan
mempunyai dua baratang (cadik) serta
dua palatto (katir). berdasarkan
ukuran, sandeq dibedakan atas dua macam yaitu sandeq kayyang (besar, diawaki 3-6 orang) dan sandeq keccu (kecil, diawaki 1-2 orang).
Berdasarkan
buku “Orang Mandar Orang Laut” karya Muhammad Ridwan Alimuddin, nelayan Mandar
mulai menggunakan Perahu Sandeq pada tahun 1930-an. Konon, di daerah tersebut, perahu ini pertama kali dikembangkan
oleh tukang perahu di Kampung Pambusuang, sebuah kampung yang terletak di
pantai Teluk Mandar, sekitar 300 km di sebelah utara Makassar. Pembuatan perahu
tersebut terinspirasi oleh model salah satu perahu besar di pelabuhan Makassar
saat itu. Sebelum Sandeq, perahu yang biasa digunakan adalah jenis pakur yang
sekilas menyerupai sadeq. Perahu pakur ini menggunakan layar tanja’ – layar
berbentuk segiempat yang tidak bisa ditarik atau digulung. Karena dinilai tidak
praktis, layar tersebut diganti dengan layar segitiga. Perubahan layar tersebut
kemudian diikuti dengan perubahan bentuk lambung, tiang layar, dan cadik.
Begitulah awal mula dari perahu Sandeq.
Menurut
Horst H Liebner, peneliti Sandeq asal Jerman, tidak ada perahu tradisional yang
sekuat dan secepat Sandeq. Perahu tradisional ini merupakan yang tercepat di
Austronesia. Meski kelihatan rapuh, Sandeq mampu mengarungi laut lepas Selat
Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan.
Para nelayan Mandar juga biasa berburu rempah-rempah hingga ke Ternate
dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar (Kompas Online, 7 September 2007)
B.
Pembuatan Perahu Sandeq
Perahu sandeq sangat masyhur sebagai
warisan kebudayaan bahari Masyarakat Mandar, Provinsi Sulawesi Barat,
Indonesia. Sebelum penggunaan motor (mesin), sandeq menjadi alat transportasi
antar pulau paling dominan sebab selain licah dan cepat, sandeq juga dapat
berlayar melawan arah angin, yaitu dengan teknik berlayar zig-zag (dalam bahasa
Mandar disebut sebagai Makkarakkayi).
Tercatat dalam sejarah perahu Sandeq telah terbukti sanggup berlayar hingga ke
Singapura, Malaysia, Jepang dan Madagaskar, Australia, Amerika. Sandeq juga
sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna.
Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang
tangguh untuk memburu kawanan ikan, khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna
yang sedang bermigrasi. Oleh karenanya, perahu yang dibuat harus bisa melaju
cepat. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon)
pada musim ikan terbang bertelur (motangnga)
Bahan
utama untuk membuat Perahu Sandeq adalah pohon Kanduruang Mamea yang telah cukup tua, sehingga selain kuat juga
mempunyai diameter yang cukup lebar. Dalam pembuatan Perahu Sandeq, penentuan
waktu untuk memulai pembuatan perahu (penyediaan bahan) sangat vital. Artinya,
untuk memulai pembuatan perahu ini harus dipilih waktu baik dan menghindari
waktu buruk. Untuk menentukan waktu baik, biasanya dilakukan dengan menggunakan
rumusan-rumusan kuno (potika). Waktu yang dianggap baik untuk memotong pohon
adalah pada bulan purnama, atau hari ke-15 menurut kalender Hijriah. Adapun
waktu untuk melakukan pemotongan kayu adalah ketika matahari menanjak naik
(pagi hari), dan ketika angin sedang berhembus. Dua tanda alam itu dijadikan
sebagai “ussul”, sebuah pengharapan agar perahu yang dibuat “rezekinya naik,
lajunya kencang” (Muhammad Ridwan Alimuddin, 2007).
Secara
garis besar, pembuatan Perahu Sandeq terdiri dari empat tahap, yaitu: tahap
mempersiapkan alat, pemotongan kayu, pembuatan calon perahu (balakang), dan
pembuatan perahu.
a)
Tahap Persiapan
Persiapan
paling awal yang harus dilakukan untuk membuat Perahu Sandeq di antaranya
adalah Mencari pohon Kanduruang Mamea
yang cocok untuk membuat Perahu Sandeq. Serta Menentukan waktu pemotongan
pohon. Pemotongan kayu biasanya dilakukan pada pagi hari bulan purnama (tanggal
15 menurut kalender Hijriah), yaitu ketika matahari beranjak naik.
b)
Tahap Pemotongan Kayu
Sehari
sebelum waktu pemotongan kayu dilakukan, orang yang hendak membuat Perahu
Sandeq, ahli kayu, dan ahli membuat Perahu Sandeq ”mengunjungi” pohon yang
hendak dipotong. Tujuannya untuk membersihkan lokasi di sekitar kayu yang
hendak dipotong dari hal-hal gaib yang dapat mengganggu tahapan pembuatan
Perahu Sandeq. Adakalanya saat
”mengunjungi” pohon yang hendak di potong ini, mereka membawa makanan yang
tidak saja untuk dimakan sendiri tetapi juga untuk diberikan kepada si penunggu
pohon. Setelah ritual pembersihan selesai, mereka pulang dan akan kembali
keesokan harinya dengan membawa peralatan-peralatan seperti kampak besar,
cangkul kayu, parang, dan juga passenso (mesin pemotong kayu).
Setelah
sampai di tempat pohon yang hendak dipotong, mereka memperhatikan dengan cermat
kondisi alam, seperti hembusan angin dan sinar matahari yang sedang naik. Hal
ini terkait dengan pengharapan masyarakat Mandar bahwa matahari naik terkait dengan “rezekinya
naik”, dan hembusan angin, terkait dengan "lajunya kencang”.
Oleh
karenanya, jika matahari sedang naik (pagi hari) dan bersinar cerah, serta
hembusan angin cukup keras, maka rencana pemotongan pohon dapat dilanjutkan.
Kemudian peralatan-peralatan untuk memotong pohon diletakkan tepat di bawah
pohon. Setelah itu, ahli Perahu Sandeq berdiri menghadap ke pohon, dengan
mengambil arah selatan, dan membaca doa. Sambil membaca doa-doa, tangan sang
ahli perahu memegang pohon itu
Sang
ahli tersebut mendongakkan kepalanya ke atas, melihat semua bagian pohon. Kemudian dia membelai-belai (mengusap-usap)
kulit pohon itu. Tujuannya adalah untuk membujuk si pohon agar bersedia untuk
ditebang. Selesai membaca doa dan berkomunikasi dengan penghuni hutan, sang
ahli kemudian melakukan penebangan simbolis. Dia mengampak pohon itu tiga kali
dan mengambil sedikit serpihan potongan kulit pohon. Kemudian sebagian serpihan
yang diambil dilemparkan ke arah yang dikehendaki sebagai arah tumbangnya
pohon. Sisa serpihan itu kemudian disimpan.
Setelah
itu, tukang senso dipersilahkan untuk melanjutkan pemotongan kayu hingga kayu
tersebut jatuh (rebah). Cara jatuh kayu juga diperhatikan, karena hal tersebut
dapat menjadi penanda apakah calon perahu yang akan dibuat akan menjadi perahu
yang dapat melaju cepat dan membawa keberuntungan ataukah tidak. Jika pohon itu
“melompat”, maka kelak kapal yang dibuat dapat melaju dengan cepat dan membawa
keberuntungan kepada pemiliknya.
Setelah
pohon tumbang, orang yang ahli mengambil serpihan dan bilah kecil kayu “yang
seharusnya ikut terpotong” tetapi masih menempel pada sisa kayu. Selanjutnya,
serpihan dan bilah kayu dibawa ke tempat pohon yang tergeletak. Bilah dan
serpihan kayu tersebut digunakan untuk “membelai” batang pohon dari bagian yang
dipotong hingga pucuk. Di dekat ujung pucuk pohon, serpihan itu kemudian
dilemparkan. Selain “membelai” pohon, serpihan kayu biasanya dikunyah-kunyah
c) Tahap Pembuatan Calon Perahu (Balakang).
Tahap pembuatan balakang, meliputi
proses pengukuran kayu dan pengerukan kayu.
Setelah pohon rebah, tahap selanjutnya adalah menentukan panjang kayu
yang akan dijadikan perahu. Panjang perahu biasanya berkisar antara 7-12 depa.
Bagian pohon yang dijadikan bagian haluan perahu adalah bagian bawah pohon.
Bagian ini kuat dan daya apungnya bagus.
Kemudian
bagian atas batang pohon (sisi pohon yang menghadap ke atas) diiris (dibuang)
dengan menggunakan passenso. Namun sebelum mengenal passenso, untuk mengiris
bagian atas biasanya menggunakan kampak besar.
Setelah itu, batang pohon dikeruk. Pengerukan menggunakan kampak,
parang, dan cangkul kayu. Namun sebelum dikeruk, terlebih dahulu dibuat
batas-batas yang akan dikeruk di atas sisi pohon yang telah dibuat datar.
Setelah selesai dikeruk maka akan dijumpai sebuah calon perahu (balakang) yang
lebih mirip lesung panjang. Kemudian
balakang tersebut dibawa keluar dari hutan. Sebelum dibawa keluar, sang
ahli kayu memohon ijin kepada kayu yang ditinggalkan. Permintaan ijin ini
ditandai dengan menyentuhkan serpihan potongan kayu ke “kayu yang akan pergi”
dan “kayu yang akan ditinggalkan”. Kemudian balakang dibawa menuju
perkampungan, yaitu ke rumah orang yang hendak membuat perahu.
d) Tahap Pembuatan Perahu
Tahapan
ini merupakan proses terkahir dari rangkaian pembuatan Perahu Sandeq. Setelah balakang betul-betul kering,
selanjutnya dibawa ke rumah tukang perahu (biasanya dibawa dengan menggunakan
perahu), dan diletakkan di battilang (tempat pembuatan perahu) yang umumnya
berada di pesisir. Setelah berada di battilang, maka proses selanjutnya adalah
pemasangan Pallayarang (tiang layar utama) dan tambera (tali penahan
pallayarang).
Dilanjutkan
dengan pemasangan sobal (layar) dan
guling (kemudi). Kemudian pemasangan
palatto (cadik), baratang dan tadiq. Selesainya pemasangan palatto, baratang
dan tadiq, maka Perahu Sandeq yang kokoh sudah siap untuk berlayar mengarungi
samudra. Namun sebelum digunakan untuk melaut, terlebih dahulu diadakan
upacara.
Pembuatan
Perahu Sandeq tidak saja memerlukan kemampuan tehnis, tetapi juga
kemampuan mistis. Hal-hal mistis yang dapat dilihat pada proses pembuatan
Perahu Sandeq dapat dilihat pada doa-doa dan ungkapan-ungkapan yang digunakan.
Adapun doa-doa dan ungkapan yang digunakan antara lain: Doa untuk membersihkan
lokasi di sekitar pohon yang hendak ditebang. Doa untuk melembekkan pohon. Doa
mohon ijin kepada hutan untuk mengambil pohon. Doa mohon kesediaan si pohon
untuk ditebang. Dan ucapan mohon ijin membawa poho balakang
ke luar hutan.
C.
Nilai-Nilai
Perahu
Sandeq tidak sekedar warisan budaya Mandar, tapi ia adalah pengejawantahan dari
karakter orang Mandar itu sendiri. Jika dikaji secara seksama, akan diketahui
bahwa di dalam perahu tersebut terkandung nilai-nilai luhur yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat Mandar.
a) Nilai
religious
Perahu
Sandeq merupakan salah satu bentuk ekspresi pola keberagamaan masyarakat Mandar.
Kepercayaan kepada hal-hal gaib yang menguasai suatu tempat, melahirkan pola keberagamaan yang unik. Permohonan ijin
kepada penghuni pohon, baik dengan membawa makanan yang diletakkan di bawah
pohon maupun dengan membaca doa-doa dan membaca mantra, merupakan bentuk dari
religiousitas orang Mandar. Keunikan pola keberagamaan orang Mandar juga dapat
dilihat dari aneka macam ritual yang senantiasa dilakukan selama pembuatan
perahu dan ketika Perahu Sandeq hendak dibawa melaut.
b) Nilai
budaya
Keberadaan
Perahu Sandeq merupakan hasil dari cara orang-orang Mandar merespon kondisi
alam di mana mereka tinggal. Rintangan dan tantangan dari selat Mandar yang
cukup dalam dan berarus deras, disikapi oleh masyarakat dengan membuat perahu
lancip menggunakan layar berbentuk segitiga dengan ditambahi cadik pada
kanan-kirinya. Hasilnya, sebuah perahu yang tidak saja mampu membelah lautan
yang cukup ganas dengan stabil, tetapi juga melaju dengan kencang dan berlayar
hingga ke mancanegara.
c) Nilai
identitas.
Perahu
Sandeq merupakan pengejawantahan dari karakter orang Mandar itu sendiri. Pallayarang (tiang layar utama) sebagai
penentu utama kelajuan perahu merupakan simbol terpacunya cita-cita
kesejahteraan masyarakat. Orang-orang Mandar harus senantiasa berjuang untuk
menjamin terciptanya kesejahteraan. Perjuangan harus senantiasa memperhatikan
keseimbang agar tidak merugi, hal ini dapat dilihat pada tambera (tali penahan pallayarang) yang menjaga pallayarang agar
tetap kokoh tegak menjulang. Kekokohan dan keseimbangan harus juga diimbangi
oleh sikap fleksibel agar mempunyai spirit untuk terus menjadi semakin baik,
hal ini dapat dilihat pada sobal (layar) berwarna putih berbentuk segitiga yang
merupakan simbol fleksibilitas yang tinggi, kegigihan, ketulusan dan kepolosan
orang mandar. Guling (kemudi) sebagai simbol ketepatan mengambil keputusan.
Palatto (cadik), baratang dan tadiq sebagai lambang penyeimbang dan pertahanan
serta memiliki jangkauan visi yang jauh menyongsong masa depan. Semua simbol
perjuangan dan keseimbangan tersebut berlandaskan kepada sifat kesucian serta
tekad yang tulus, sebagaimana yang tercermin pada warna Perahu Sandeq, warna
putih juga mempunyai maksud bahwa orang Mandar sangat terbuka untuk menghadapi
perubahan seperti disebutkan dalam sebuah ungkapan ”ibannang pute meloq
dicinggaq meloq dilango lango”.
D. Lomba
Perahu Sandeq
Bagi
masyarakat suku Mandar, dahulunya perahu sandeq dimanfaatkan untuk mencari ikan
di laut lepas di kala laut begitu tenang dan ikan mudah didapat. Tetapi, ketika
kondisi sebaliknya, para nelayan Mandar lebih banyak memarkir kapal mereka di
bibir pantai. Untuk mengisi waktu, terkadang mereka menggelar lomba adu cepat
perahu sandeq. Biasanya, lomba yang diadakan hanya sebatas melatih kemampuan
dalam melakukan manuver dengan cara memutari area yang telah ditetapkan, yaitu
tiga titik lingkaran yang tidak jauh dari bibir pantai. Pelestarian budaya Lomba sandeq profesional dirancang pada
tahun 1995. Sandeq Race merupakan usaha untuk melestarikan dan meneruskan
budaya bahari Mandar yang terancam punah
Lomba sandeq masih bisa disaksikan
hingga saat ini dalam Sandeq Race, digelar sebagai agenda tahunan menjelang HUT
Proklamasi dengan mengambil rute Mamuju
di Sulawesi Barat ke Makassar di Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh 300 mil
laut.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sandeq, perahu tradisional Mandar merupakan warisan leluhur
sebagai sarana para nelayan untuk mencari ikan di laut sebagai mata
pencaharian, sebagai sarana transportasi para pedagang pada masa silam
mengarungi lautan untuk menjual hasil bumi. Perahu Sandeq juga adalah sebuah
ikon kehebatan maritim masyarakat Mandar, kehebatan para pelaut ulung Mandar
dibuktikan melalui pelayaran yang menggunakan perahu bercadik ini
B.
Saran
Perahu Sandeq merupakan pengejawantahan
dari kearifan lokal dan pembentuk identitas masyarakat Mandar. Oleh karenya,
upaya pelestarian Perahu Sandeq harus segera di lakukan agar jati diri orang
Mandar dapat terus lestari. Namun juga harus disadari bahwa pelesatarian tidak
saja sekedar menjaga Perahu Sandeq secara fisik, tetapi juga merevitalisasi
nilai-nilai yang terkandung di dalamny












