Wednesday, May 20, 2015

BUDAYA MARITIM MANDAR “PERAHU SANDEQ”

Makalah WSBB
BUDAYA MARITIM MANDAR
“PERAHU SANDEQ”





OLEH

HILDAWATI
E51114308

JURUSAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015







Kata Pengantar

Puji dan syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas Berkat dan Rahmatnya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Isi makalah ini, membahas tentang “Budaya Maritim Mandar Perahu Sandeq”.  Semoga dengan pembahasan makalah ini dapat berguna bagi kita. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu  dengan memberikan dorongan dan  saran untuk menyusun makalah ini sehingga diselesaikan dengan baik. Dan juga makalah ini masih jauh  dari kesempurnaan, apabila ada kekurangan atau kesalahan kata dalam penulisan,  saya mohon maaf  yang sebesar-besarnya dan bersedia menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi memperbaiki makalah ini.





PENULIS











DAFTAR ISI
Kata Pengantar........................................................................................................ ii
Daftar Isi................................................................................................................ iii...........
BAB I          PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah.................................................... 1
B.     Rumusan masalah............................................................ 2
C.     Tujuan penulisan.............................................................. 2
BAB II         PEMBAHASAN
A.    Sejarah Perahu Sandeq................................................ 3
B.     Pembuatan Perahu Sandeq.......................................... 4
C.     Nilai-nilai Perahu Sandeq ...........................................  9
D.    Lomba Perahu Sandeq ................................................ 10
BAB III       PENUTUP
A.    Kesimpulan................................................................ 11
B.     Saran.......................................................................... 11
C.     Lampiran Gambar ...................................................... 12


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan diri dengan laut. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut. Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang berjudul  ”Manusia Bugis” (2006), bahwa orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Mereka tidak akan bisa hilang dan tersesat di lautan. Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut, salah satunya keperahuan (paissangang paalopiang). Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah rumpon  atau  roppong  dan  Perahu Sandeq.  Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia. Sandeq, perahu tradisional Mandar merupakan warisan leluhur sebagai sarana para nelayan untuk mencari ikan di laut sebagai mata pencaharian, sebagai sarana transportasi para pedagang pada masa silam mengarungi lautan untuk menjual hasil bumi.



B.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan makalah dari makalah ini yaitu :
1.      Sejarah perahu sandeq
2.      Pembuatan perahu sandeq
3.      Nilai dari perahu sandeq

C.   Tujuan Penulisan
Adapu tujuan penulisan makalah yaitu :
1.      Untuk mengetahui sejarah perahu sandeq
2.      Untuk mengetahui proses pembuatan perahu sandeq
3.      Untuk mengetahui nilai – nilai yang terkandung pada perahu sandeq



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Perahu Sandeq
Sandeq adalah perahu bercadik khas Mandar. Sandeq digunakan untuk menangkap ikan dan berdagang, warnanya putih, bertiang layar tunggal, layarnya bersegi-tiga, dan mempunyai dua baratang (cadik) serta dua palatto (katir). berdasarkan ukuran, sandeq dibedakan atas dua macam yaitu sandeq kayyang (besar, diawaki 3-6 orang) dan sandeq keccu (kecil, diawaki 1-2 orang).
Berdasarkan buku “Orang Mandar Orang Laut” karya Muhammad Ridwan Alimuddin, nelayan Mandar mulai menggunakan Perahu Sandeq pada tahun 1930-an. Konon, di daerah  tersebut, perahu ini pertama kali dikembangkan oleh tukang perahu di Kampung Pambusuang, sebuah kampung yang terletak di pantai Teluk Mandar, sekitar 300 km di sebelah utara Makassar. Pembuatan perahu tersebut terinspirasi oleh model salah satu perahu besar di pelabuhan Makassar saat itu. Sebelum Sandeq, perahu yang biasa digunakan adalah jenis pakur yang sekilas menyerupai sadeq. Perahu pakur ini menggunakan layar tanja’ – layar berbentuk segiempat yang tidak bisa ditarik atau digulung. Karena dinilai tidak praktis, layar tersebut diganti dengan layar segitiga. Perubahan layar tersebut kemudian diikuti dengan perubahan bentuk lambung, tiang layar, dan cadik. Begitulah awal mula dari perahu Sandeq.
Menurut Horst H Liebner, peneliti Sandeq asal Jerman, tidak ada perahu tradisional yang sekuat dan secepat Sandeq. Perahu tradisional ini merupakan yang tercepat di Austronesia. Meski kelihatan rapuh, Sandeq mampu mengarungi laut lepas Selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan.  Para nelayan Mandar juga biasa berburu rempah-rempah hingga ke Ternate dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar (Kompas Online, 7 September 2007)
B.   Pembuatan Perahu Sandeq
Perahu sandeq sangat masyhur sebagai warisan kebudayaan bahari Masyarakat Mandar, Provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Sebelum penggunaan motor (mesin), sandeq menjadi alat transportasi antar pulau paling dominan sebab selain licah dan cepat, sandeq juga dapat berlayar melawan arah angin, yaitu dengan teknik berlayar zig-zag (dalam bahasa Mandar disebut sebagai Makkarakkayi). Tercatat dalam sejarah perahu Sandeq telah terbukti sanggup berlayar hingga ke Singapura, Malaysia, Jepang dan Madagaskar, Australia, Amerika.  Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan, khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna yang sedang bermigrasi. Oleh karenanya, perahu yang dibuat harus bisa melaju cepat. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon) pada musim ikan terbang bertelur (motangnga)
Bahan utama untuk membuat Perahu Sandeq adalah pohon Kanduruang Mamea yang telah cukup tua, sehingga selain kuat juga mempunyai diameter yang cukup lebar. Dalam pembuatan Perahu Sandeq, penentuan waktu untuk memulai pembuatan perahu (penyediaan bahan) sangat vital. Artinya, untuk memulai pembuatan perahu ini harus dipilih waktu baik dan menghindari waktu buruk. Untuk menentukan waktu baik, biasanya dilakukan dengan menggunakan rumusan-rumusan kuno (potika). Waktu yang dianggap baik untuk memotong pohon adalah pada bulan purnama, atau hari ke-15 menurut kalender Hijriah. Adapun waktu untuk melakukan pemotongan kayu adalah ketika matahari menanjak naik (pagi hari), dan ketika angin sedang berhembus. Dua tanda alam itu dijadikan sebagai “ussul”, sebuah pengharapan agar perahu yang dibuat “rezekinya naik, lajunya kencang” (Muhammad Ridwan Alimuddin, 2007).
Secara garis besar, pembuatan Perahu Sandeq terdiri dari empat tahap, yaitu: tahap mempersiapkan alat, pemotongan kayu, pembuatan calon perahu (balakang), dan pembuatan perahu.
a)      Tahap Persiapan
Persiapan paling awal yang harus dilakukan untuk membuat Perahu Sandeq di antaranya adalah Mencari pohon Kanduruang Mamea yang cocok untuk membuat Perahu Sandeq. Serta Menentukan waktu pemotongan pohon. Pemotongan kayu biasanya dilakukan pada pagi hari bulan purnama (tanggal 15 menurut kalender Hijriah), yaitu ketika matahari beranjak naik.
b)      Tahap Pemotongan Kayu
Sehari sebelum waktu pemotongan kayu dilakukan, orang yang hendak membuat Perahu Sandeq, ahli kayu, dan ahli membuat Perahu Sandeq ”mengunjungi” pohon yang hendak dipotong. Tujuannya untuk membersihkan lokasi di sekitar kayu yang hendak dipotong dari hal-hal gaib yang dapat mengganggu tahapan pembuatan Perahu Sandeq.  Adakalanya saat ”mengunjungi” pohon yang hendak di potong ini, mereka membawa makanan yang tidak saja untuk dimakan sendiri tetapi juga untuk diberikan kepada si penunggu pohon. Setelah ritual pembersihan selesai, mereka pulang dan akan kembali keesokan harinya dengan membawa peralatan-peralatan seperti kampak besar, cangkul kayu, parang, dan juga passenso (mesin pemotong kayu).
Setelah sampai di tempat pohon yang hendak dipotong, mereka memperhatikan dengan cermat kondisi alam, seperti hembusan angin dan sinar matahari yang sedang naik. Hal ini terkait dengan pengharapan masyarakat Mandar bahwa  matahari naik terkait dengan “rezekinya naik”, dan hembusan angin, terkait dengan "lajunya kencang”.

Oleh karenanya, jika matahari sedang naik (pagi hari) dan bersinar cerah, serta hembusan angin cukup keras, maka rencana pemotongan pohon dapat dilanjutkan. Kemudian peralatan-peralatan untuk memotong pohon diletakkan tepat di bawah pohon. Setelah itu, ahli Perahu Sandeq berdiri menghadap ke pohon, dengan mengambil arah selatan, dan membaca doa. Sambil membaca doa-doa, tangan sang ahli perahu memegang pohon itu
Sang ahli tersebut mendongakkan kepalanya ke atas, melihat semua bagian  pohon. Kemudian dia membelai-belai (mengusap-usap) kulit pohon itu. Tujuannya adalah untuk membujuk si pohon agar bersedia untuk ditebang. Selesai membaca doa dan berkomunikasi dengan penghuni hutan, sang ahli kemudian melakukan penebangan simbolis. Dia mengampak pohon itu tiga kali dan mengambil sedikit serpihan potongan kulit pohon. Kemudian sebagian serpihan yang diambil dilemparkan ke arah yang dikehendaki sebagai arah tumbangnya pohon. Sisa serpihan itu kemudian disimpan.
Setelah itu, tukang senso dipersilahkan untuk melanjutkan pemotongan kayu hingga kayu tersebut jatuh (rebah). Cara jatuh kayu juga diperhatikan, karena hal tersebut dapat menjadi penanda apakah calon perahu yang akan dibuat akan menjadi perahu yang dapat melaju cepat dan membawa keberuntungan ataukah tidak. Jika pohon itu “melompat”, maka kelak kapal yang dibuat dapat melaju dengan cepat dan membawa keberuntungan kepada pemiliknya.
Setelah pohon tumbang, orang yang ahli mengambil serpihan dan bilah kecil kayu “yang seharusnya ikut terpotong” tetapi masih menempel pada sisa kayu. Selanjutnya, serpihan dan bilah kayu dibawa ke tempat pohon yang tergeletak. Bilah dan serpihan kayu tersebut digunakan untuk “membelai” batang pohon dari bagian yang dipotong hingga pucuk. Di dekat ujung pucuk pohon, serpihan itu kemudian dilemparkan. Selain “membelai” pohon, serpihan kayu biasanya dikunyah-kunyah
c)    Tahap Pembuatan Calon Perahu (Balakang).
           Tahap pembuatan balakang, meliputi proses pengukuran kayu dan pengerukan kayu.  Setelah pohon rebah, tahap selanjutnya adalah menentukan panjang kayu yang akan dijadikan perahu. Panjang perahu biasanya berkisar antara 7-12 depa. Bagian pohon yang dijadikan bagian haluan perahu adalah bagian bawah pohon. Bagian ini kuat dan daya apungnya bagus.
Kemudian bagian atas batang pohon (sisi pohon yang menghadap ke atas) diiris (dibuang) dengan menggunakan passenso. Namun sebelum mengenal passenso, untuk mengiris bagian atas biasanya menggunakan kampak besar.  Setelah itu, batang pohon dikeruk. Pengerukan menggunakan kampak, parang, dan cangkul kayu. Namun sebelum dikeruk, terlebih dahulu dibuat batas-batas yang akan dikeruk di atas sisi pohon yang telah dibuat datar. Setelah selesai dikeruk maka akan dijumpai sebuah calon perahu (balakang) yang lebih mirip lesung panjang. Kemudian  balakang tersebut dibawa keluar dari hutan. Sebelum dibawa keluar, sang ahli kayu memohon ijin kepada kayu yang ditinggalkan. Permintaan ijin ini ditandai dengan menyentuhkan serpihan potongan kayu ke “kayu yang akan pergi” dan “kayu yang akan ditinggalkan”. Kemudian balakang dibawa menuju perkampungan, yaitu ke rumah orang yang hendak membuat perahu.
d)   Tahap Pembuatan Perahu
Tahapan ini merupakan proses terkahir dari rangkaian pembuatan Perahu Sandeq.  Setelah balakang betul-betul kering, selanjutnya dibawa ke rumah tukang perahu (biasanya dibawa dengan menggunakan perahu), dan diletakkan di battilang (tempat pembuatan perahu) yang umumnya berada di pesisir. Setelah berada di battilang, maka proses selanjutnya adalah pemasangan Pallayarang (tiang layar utama) dan tambera (tali penahan pallayarang).
Dilanjutkan dengan pemasangan  sobal (layar) dan guling (kemudi).  Kemudian pemasangan palatto (cadik), baratang dan tadiq. Selesainya pemasangan palatto, baratang dan tadiq, maka Perahu Sandeq yang kokoh sudah siap untuk berlayar mengarungi samudra. Namun sebelum digunakan untuk melaut, terlebih dahulu diadakan upacara.
Pembuatan Perahu Sandeq  tidak  saja memerlukan kemampuan tehnis, tetapi juga kemampuan mistis. Hal-hal mistis yang dapat dilihat pada proses pembuatan Perahu Sandeq dapat dilihat pada doa-doa dan ungkapan-ungkapan yang digunakan. Adapun doa-doa dan ungkapan yang digunakan antara lain: Doa untuk membersihkan lokasi di sekitar pohon yang hendak ditebang. Doa untuk melembekkan pohon. Doa mohon ijin kepada hutan untuk mengambil pohon. Doa mohon kesediaan si pohon untuk ditebang. Dan ucapan mohon  ijin  membawa  poho balakang  ke luar hutan.

C.   Nilai-Nilai
Perahu Sandeq tidak sekedar warisan budaya Mandar, tapi ia adalah pengejawantahan dari karakter orang Mandar itu sendiri. Jika dikaji secara seksama, akan diketahui bahwa di dalam perahu tersebut terkandung nilai-nilai luhur yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Mandar.
a)      Nilai religious
Perahu Sandeq merupakan salah satu bentuk ekspresi pola keberagamaan masyarakat Mandar. Kepercayaan kepada hal-hal gaib yang menguasai suatu tempat, melahirkan  pola keberagamaan yang unik. Permohonan ijin kepada penghuni pohon, baik dengan membawa makanan yang diletakkan di bawah pohon maupun dengan membaca doa-doa dan membaca mantra, merupakan bentuk dari religiousitas orang Mandar. Keunikan pola keberagamaan orang Mandar juga dapat dilihat dari aneka macam ritual yang senantiasa dilakukan selama pembuatan perahu dan ketika Perahu Sandeq hendak dibawa melaut.  
b)      Nilai budaya
Keberadaan Perahu Sandeq merupakan hasil dari cara orang-orang Mandar merespon kondisi alam di mana mereka tinggal. Rintangan dan tantangan dari selat Mandar yang cukup dalam dan berarus deras, disikapi oleh masyarakat dengan membuat perahu lancip menggunakan layar berbentuk segitiga dengan ditambahi cadik pada kanan-kirinya. Hasilnya, sebuah perahu yang tidak saja mampu membelah lautan yang cukup ganas dengan stabil, tetapi juga melaju dengan kencang dan berlayar hingga ke mancanegara.    
c)      Nilai identitas.
Perahu Sandeq merupakan pengejawantahan dari karakter orang Mandar itu sendiri. Pallayarang (tiang layar utama) sebagai penentu utama kelajuan perahu merupakan simbol terpacunya cita-cita kesejahteraan masyarakat. Orang-orang Mandar harus senantiasa berjuang untuk menjamin terciptanya kesejahteraan. Perjuangan harus senantiasa memperhatikan keseimbang agar tidak merugi, hal ini dapat dilihat pada tambera (tali penahan pallayarang) yang menjaga pallayarang agar tetap kokoh tegak menjulang. Kekokohan dan keseimbangan harus juga diimbangi oleh sikap fleksibel agar mempunyai spirit untuk terus menjadi semakin baik, hal ini dapat dilihat pada sobal (layar) berwarna putih berbentuk segitiga yang merupakan simbol fleksibilitas yang tinggi, kegigihan, ketulusan dan kepolosan orang mandar. Guling (kemudi) sebagai simbol ketepatan mengambil keputusan. Palatto (cadik), baratang dan tadiq sebagai lambang penyeimbang dan pertahanan serta memiliki jangkauan visi yang jauh menyongsong masa depan. Semua simbol perjuangan dan keseimbangan tersebut berlandaskan kepada sifat kesucian serta tekad yang tulus, sebagaimana yang tercermin pada warna Perahu Sandeq, warna putih juga mempunyai maksud bahwa orang Mandar sangat terbuka untuk menghadapi perubahan seperti disebutkan dalam sebuah ungkapan ”ibannang pute meloq dicinggaq meloq dilango lango”.

D.   Lomba Perahu Sandeq
                  Bagi masyarakat suku Mandar, dahulunya perahu sandeq dimanfaatkan untuk mencari ikan di laut lepas di kala laut begitu tenang dan ikan mudah didapat. Tetapi, ketika kondisi sebaliknya, para nelayan Mandar lebih banyak memarkir kapal mereka di bibir pantai. Untuk mengisi waktu, terkadang mereka menggelar lomba adu cepat perahu sandeq. Biasanya, lomba yang diadakan hanya sebatas melatih kemampuan dalam melakukan manuver dengan cara memutari area yang telah ditetapkan, yaitu tiga titik lingkaran yang tidak jauh dari bibir pantai. Pelestarian  budaya Lomba sandeq profesional dirancang pada tahun 1995. Sandeq Race merupakan usaha untuk melestarikan dan meneruskan budaya bahari Mandar  yang terancam punah  Lomba sandeq masih bisa disaksikan hingga saat ini dalam Sandeq Race, digelar sebagai agenda tahunan menjelang HUT  Proklamasi dengan mengambil rute Mamuju di Sulawesi Barat ke Makassar di Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh 300 mil laut.




BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Sandeq, perahu tradisional Mandar merupakan warisan leluhur sebagai sarana para nelayan untuk mencari ikan di laut sebagai mata pencaharian, sebagai sarana transportasi para pedagang pada masa silam mengarungi lautan untuk menjual hasil bumi. Perahu Sandeq juga adalah sebuah ikon kehebatan maritim masyarakat Mandar, kehebatan para pelaut ulung Mandar dibuktikan melalui pelayaran yang menggunakan perahu bercadik ini

B.   Saran
     Perahu Sandeq merupakan pengejawantahan dari kearifan lokal dan pembentuk identitas masyarakat Mandar. Oleh karenya, upaya pelestarian Perahu Sandeq harus segera di lakukan agar jati diri orang Mandar dapat terus lestari. Namun juga harus disadari bahwa pelesatarian tidak saja sekedar menjaga Perahu Sandeq secara fisik, tetapi juga merevitalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamny



1 comment: